Pemberdayaan Masyarakat Butuh Inovasi dan Imajinasi

SEMARANG – John Dijkstra Institute (JDI) bersama pengurus Lembaga Pemberdayaan Usaha Buruh Tani Nelayan (LPUBTN) menggelar diskusi kedua, dengan tema “Peluang dan Inovasi Pemberdayaan Masyarakat untuk Mewujudkan Kesejahteraan Umum, Sabtu (23/2). Bertempat di Kantor LPUBTN Jalan Srigunting nomor 10 Kota Lama Semarang, diskusi yang dihadiri 60 peserta dari berbagai komunitas, yayasan sosial, dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Kota Semarang ini, fokus membahas peluang, inovasi, imajinasi, serta kendala-kendala dalam menciptakan iklim pemberdayaan masyarakat, tanpa “budaya proyek” yang menungganginya.

Dalam paparan materi pertama, Rm. Yohanes Krismanto, Pr mengajak seluruh peserta untuk memiliki kesadaran hadir dan berkarya. Dari kesadaran tersebut maka akan muncul keinginan untuk bersama-sama mewujudkan kesejahteraan umum. “Gereja Katholik membahasakan kesejahteraan umum dengan istilah Bonum Commune, artinya seluruh umat diminta tidak hanya berperan untuk menyejahterakan kelompoknya sendiri, tetapi lebih meluas sesuai makna gereja yang mencakup saya, anda, dan kita dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap Ketua Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Keuskupan Agung Semarang (PSE KAS).

Dilanjutkan pada materi kedua. Materi yang dibawakan oleh Dosen Psikologi Sosial Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, Dr. Pius Heru Priyanto, M.Si. menjadi semakin menarik. Ketika membahas keberdayaan sosial, Pius selalu melihat dikotomi antara pengertian ketidakberdayaan dan berdaya. “Berdaya diimajinasikan seperti pohon yang berbuah, produktif, hidup, bertenaga, bersinar. Berdaya itu menghidupkan diri dan orang lain. Sedangkan ketidakberdayaan itu artinya orang sakit, tidak membuahkan sesuatu, merepotkan orang lain. Ibarat lampu mati dan memunculkan kegelapan,” jelasnya. Pius yang juga menjadi salah satu aktivis pemberdayaan para pekerja seks komersil di Lokalisasi Sunan Kuning menambahkan pula, bahwa kunci dari keberhasilan dan inovasi pemberdayaan adalah motivasi diri secara positif untuk bisa dan mau bergerak, dengan dilandasi semangat kasih.

Tidak berbeda dengan pemateri pertama dan kedua. Pemateri ketiga Petrus Puji Sarwono juga menegaskan bahwa peluang-peluang pemberdayaan sosial itu sangat beragam. “Kita dalam aktivitas pemberdayaan sosial selalu berangkat dari tiga prinsip dasar yaitu solidaritas, keswadayaan, dan pendidikan. Lewat ketiga hal ini maka para penggerak sosial bisa mendorong pengembangan kegiatan yang kreatif di masyarakat, sesuai dengan kebutuhan dan problematika yang muncul,” kata penggiat Kelurahan Kemijen Semarang ini.

Sementara itu, bagi Andreas salah satu peserta dari GPIB Immanuel Kota Lama, dalam diskusi menyampaikan pandangannya , bahwa langkah-langkah yang dilakukan oleh LPUBTN dan Gereja Katholik pada umumnya selalu menjadi inspirasi bagi para penggiat sosial dari mana pun. “Jujur kami belajar banyak dari pola-pola pemberdayaan seperti ini. Semuanya jadi model acuan kami, khususnya GPIB Immanuel dalam mengkonsepkan arah gerak pemberdayaan sosial. Mudah-mudahan kami dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya dari diskusi ini,” ujar Andreas yang hadir bersama Muda-Mudi GPIB Immanuel lainnya.

Tidak hanya Andreas saja yang terlibat dalam diskusi ini. Rosta, mahasiswi Psikologi Universitas Diponegoro yang tergabung dalam lembaga Pusat Informasi Layanan Remaja Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PILAR PKBI) Jawa Tengah, menyatakan bahwa dalam pemberdayaan sosial akan banyak aspek yang turut menyertainya. “Apakah yang diutamakan dahulu adalah ketersediaan uang atau pendekatan terlebih dahulu? Sebab dalam memahami sebuah masyarakat yang menjadi mitra pemberdayaan tentu kita harus pandai membaca situasi. Di lembaga kami, tentu sasarannya adalah anak-anak remaja yang tidak mudah bercerita. Jadi kami harus pandai-pandai mencari strategi mengajak mereka untuk diberdayakan bersama,” tegasnya. (Army)

FOTO BERSAMA: Seluruh Peserta Diskusi II John Dijkstra Institute (JDI) berfoto bersama usai menggelar diskusi di Kantor LPUBTN-JDI Jalan Srigunting 10 Kota Lama Semarang, Sabtu (23/2). (Eko)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *