Catatan Dialog Karya (Bagian Pertama)

Selayang Pandang

Lembaga Pendamping Usaha Buruh Tani Nelayan Keuskupan Agung Semarang (LPUBTN KAS) merupakan sebuah lembaga pemberdayaan masyarakat di bidang sosial ekonomi. Dalam catatan sejarah, LPUBTN KAS telah mengalami metamorfosa lebih dari satu kali. Mulai dari rumah bersama gerakan sosial Pancasila yang muncul pasca kemerdekaan, tepatnya pada tahun 1953, hingga menyatu dengan gerak langkah Biro Sosial atau Panitia Sosial MAWI atau sekarang yang dikenal sebagai Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi Konferensi Waligereja Indonesia. Dan kini, sejak pertengahan dekade silam LPUBTN berada di bawah Keuskupan Agung Semarang.

Mgr. Albertus Soegijapranata, SJ., dan Romo John Dijkstra, SJ., adalah penggagas lembaga pemberdayaan dan pendampingan masyarakat yang menaungi pelbagai gerakan sosial, diantaranya, Buruh Pancasila, Petani Pancasila, Para Medis Pancasila, Usahawan Pancasila, Kursus Sosial Ekonomi Desa Pancasila, dan sederet gerakan lainnya di bawah ideologi tunggal Pancasila.

Pancasila digunakan sebagai nama gerakan karena menjadi arah dasar sekaligus merangkum seluruh prinsip hidup ke-Indonesia-an. Pancasila diyakini mampu mewadahi keberagaman Indonesia sehingga diutamakan sebagai poros gerakan untuk mewujudkan keterbukaannya dari masa ke masa.

Di bawah kepemimpinan Mgr. Soegijapranata, Gereja Katolik turut serta dan terlibat menjawab kondisi bangsa yang  sedang tumbuh dengan beberapa aksi kecil terutama bagi kepentingan kaum miskin. Di satu sisi, Mgr Soegijapranata dan Romo Dijkstra mulai memikirkan perlunya gerakan aksi puasa yang dalam perkembangannya menjadi Aksi Puasa Pembangunan (APP) sebagai bentuk kepedulian umat terhadap kaum kecil.

Di sisi lain, Romo Dijkstra berupaya untuk mengajak banyak orang untuk terlibat nyata dalam gerakan pemberdayaan khususnya para kaum muda dan mahasiswa serta masyarakat luas. Keduanya paham betul bahwa perlu sinergisitas banyak pihak untuk mengatasi berbagai permasalahan negara dan bangsa Indonesia.

Namun, hiruk pikuk politik negara di masa orde baru memberi sumbangsih kelam pada sejarah lembaga pemberdayaan masyarakat maupun pelbagai gerakan sosial lainnya. Ragam Gerakan Pancasila dan Yayasan Pembimbing Usaha Buruh Tani (YPUBT, kala itu) mandeg dan terhenti karena kebijakan politik pemerintah Soeharto.

Momentum pun tiba ketika orde baru berada di ujung tanduk. Romo Dijkstra dengan segera mendorong kembali perjuangan melalui Lembaga Buruh Tani Nelayan guna merespon krisis ekonomi dan dampak kemiskinan yang sistemik. Romo Dijkstra mengajak banyak pihak, khususnya para tokoh Gerakan Pancasila di masa lampau untuk memulai kembali pemberdayaan masyarakat terutama bagi buruh, petani dan nelayan.

Romo John Dijkstra menjadi pendorong atas gerakan sosial yang dilakukan LPUBTN untuk melanjutkan dan menjaga semangat perjuangan gerakan sosial tanpa membeda-bedakan elemen di dalam kehidupan masyarakat. Pertimbangan lain adalah menimba semangat Romo John Dijkstra sebagai inisiator gerakan sosial bersama Mgr.Soegijapranata yang bermula dari Rumah Srigunting 10 dan saat ini menjadi saksi sejarah bahwa banyak pemikiran dan gerakan sosial lahir dan meluas ke berbagai wilayah Indonesia.

Upaya memulai kembali sebuah lembaga yang sempat terhenti selama puluhan tahun tentu tidak mudah. Awal mula dilakukan pelayanan bagi masyarakat miskin di kawasan Kota Lama Semarang. Dari Kota Lama Semarang, gerakan pendampingan merambah ke beberapa wilayah lainnya. Sayangnya, Romo Dijkstra tutup usia pada 20 Mei 2003. Satu tahun berikutnya, LPUBTN diserahkan kepada Keuskupan Agung Semarang dan diminta untuk menghidupkan kembali sebagai suatu pelayanan untuk Buruh Tani dan Nelayan.

Pada tahun-tahun berikutnya, LPUBTN melakukan pendampingan terhadap Buruh, Tani, Nelayan di wilayah Keuskupan Agung Semarang. Pertimbangan dasarnya adalah melihat umat dan kebanyakan masyarakat yang bertumpu hidup di bidang agraris, pesisir, dan sebagian industri, dan merekalah yang dinilai miskin atau berkekurangan. LPUBTN KAS pada hari-hari selanjutnya semakin diteguhkan dalam pergerakannya oleh Mgr Suharyo pada 19 September 2007 lewat Rumah Pelayanan di Jalan Srigunting 10, Kota Lama, Semarang.

bersambung…

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *