Ngopi Bersama Buruh Di Bergas

Malam jumat di pertengahan bulan Juli menjadi pertemuan bagi LPUBTN dan John Dijkstra Institute untuk melakukan serangkaian silaturahmi sembari Ngopi. Ngopi yang dimaksudkan adalah ngobrol pintar menyoal subyek dampingan LPUBTN, yakni buruh, tani dan nelayan di beberapa wilayah dampingan.

Di Bergas Kidul, Kabupaten Semarang, Pak Giyanto dan kawan-kawan menyambut penuh hangat di tengah udara dingin malam yang mulai turun dari Gunung Ungaran. Racikan jahe merah khas Bergas dan hasil produksi usaha kecil seperti kripik daun strawberry dan jambu pun disuguhkan di tengah joglo antik yang berada di jalan raya Bandungan.

Pak Giyanto membuka pertemuan dengan memaparkan potret dan kondisi perburuhan di Bergas secara umum. Berbagai pengalaman dan persoalan tak luput tersampaikan dalam Ngopi pada kamis malam 19 Juli tersebut. Salah satu yang menjadi topik utama pembicaraan adalah peliknya pembentukan serikat buruh yang senantiasa berujung pada union busting.

Sementara itu, Romo Agung, dari Paroki Sukorejo Ngaliyan yang menyempatkan hadir pada pertemuan, segera memberi tanggapan. “Serikat buruh padahal tidak melulu menuntut perusahaan, tetapi dapat meningkatkan produktifitas. Mondragon di Spanyol, misalnya, keaktifan para buruh turut berperan pada peningkatan produktifitas perusahaan” papar Romo yang pernah bertualang di Bergas pada awal tahun 80an.

Mondragon dapat menjadi rujukan bersama untuk membuka cakrawala mengenai hubungan antara buruh dan pengusaha. Bahwasanya pembentukan koperasi yang diinisiasi oleh anggota, yakni para buruh itu sendiri secara mandiri, juga dapat melibatkan para pengusaha untuk ambil bagian dalam kemajuan bersama. Singkatnya, posisi keduanya menjadi setara serta saling berupaya untuk kesejahteraan bersama.

Dalam lingkup regional, perusahaan atau pabrik yang mulai hadir di tengah pedesaan Jawa Tengah seperti Bergas dan di daerah lainnya, sudah semestinya menjadi perhatian serius pemerintah setempat. Hal tersebut dikarenakan tidak sedikit lahan pertanian yang telah berubah fungsi demi industri. “Memang, meskipun terdapat kucuran dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) namun kerap belum tepat sasaran di masyarakat” ungkap Pak Giyanto, yang telah puluhan tahun bekerja di salah satu pabrik ternama di daerah Bergas.

Lebih lanjut, Pak Giyanto menyampaikan bahwa sayangnya masyarakat pedesaan yang sudah turun menurun hidup dari pertanian dan perkebunan, perlahan mulai meninggalkan ladang dan sawah. Padahal mencari rezeki tidak harus di pabrik atau perusahaan. Toh sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Bob Sadino, meskipun gaji besar tapi masih ikut orang, itu namanya masih kuli.

Hal tersebut diamini oleh Pak Nur yang mengalami lika-liku saat bekerja di sebuah perusahaan. Kebangkrutan perusahaan atau pemberhentian kerja selalu menjadi kekhawatiran bahkan ketakutan yang dapat menimbulkan malapetaka, bukan hanya bagi dirinya tapi juga keluarga. Setelah belasan tahun bekerja, mimpi buruk itu pun menjadi kenyataan.

Maka dari itu, kiranya ada suatu upaya lain yang dapat dilakukan sebagai pilihan alternatif demi kebaikan generasi mendatang. Kesadaran dan kemauan untuk mengelola potensi desa dapat menjadi satu pilihan yang dapat dilakukan, seperti mengingat dan melakukan kembali permainan anak-anak desa di masa lampau yang sudah jarang dilakukan, lalu tradisi bersih sendang, dan lainnya. Hal tersebut dapat melestarikan kearifan lokal di satu sisi, dan menjadi sarana promosi desa wisata di sisi lain.

Pak Giyanto dalam beberapa waktu belakangan telah mengupayakan pembentukan kelompok sadar wisata (pokdarwis). Namun, hal tersebut dirasa tidak cukup dan berhenti di situ saja, sehingga perlu dibarengi pendampingan, peningkatan kapasitas, dan sinergi dengan banyak pihak. Sinergi adalah kunci keberhasilan dalam upaya membuat perubahan yang lebih baik di dalam masyarakat.

Apa yang telah digagas Pak Giyanto dan kawan-kawan merupakan hal yang perlu didukung agar dapat bertumbuh-kembang. Kesadaran untuk berani memulai dan berusaha di luar perusahaan menjadi pilihan bijak, apalagi ketika berdampak positif pada masyarakat. Hal tersebut sejalan dengan LPUBTN yang selalu mendampingi upaya maupun usaha para buruh untuk meningkatkan kesejahteraan, terutama untuk generasi masa depan. (ƒdr)

 

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Next Post

Anyaman Bambu Gantang

Thu Aug 9 , 2018
Pendampingan LPUBTN KAS di Dusun Gantang memulai sesuatu yang berbeda. Dalam kesempatan di awal pekan bulan ini yakni 6-7 Agustus 2018, para pendamping mencoba untuk memfasilitasi sebuah ruang pelatihan untuk mengolah bambu menjadi suatu produk kerajinan. Gregorius Ismono sebagai Koordinator Wilayah Yogyakarta LPUBTN KAS merajut pelatihan tersebut dengan Sr Ani […]